Dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata, Ibnu Abbas berkata padaku,
“Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?”
Aku menjawab, “Ya”
Ia berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.’
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.’
Wanita itu menjawab, ‘Aku pilih bersabar.’ Lalu ia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’
Maka Nabi pun mendoakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa rindunya hati ini kepada surga-Nya yang begitu indah. Yang luasnya seluas langit dan bumi. Betapa besarnya harapan ini untuk menjadi salah satu penghuni surga-Nya. Dan subhanallah! Ada seorang wanita yang berhasil meraih kedudukan mulia tersebut. Bahkan ia dipersaksikan sebagai salah seorang penghuni surga di kala nafasnya masih dihembuskan. Sedangkan jantungnya masih berdetak. Kakinya pun masih menapak di permukaan bumi.
Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas kepada muridnya, Atha bin Abi Rabah, “Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?” Aku menjawab, “Ya”
Ibnu Abbas berkata, “Wanita hitam itulah….dst”
Wahai saudariku, tidakkah engkau iri dengan kedudukan mulia yang berhasil diraih wanita itu? Dan tidakkah engkau ingin tahu, apakah gerangan amal yang mengantarkannya menjadi seorang wanita penghuni surga?
Apakah karena ia adalah wanita yang cantik jelita dan berparas elok? Ataukah karena ia wanita yang berkulit putih bak batu pualam?
Tidak. Bahkan Ibnu Abbas menyebutnya sebagai wanita yang berkulit hitam.
Wanita hitam itu, yang mungkin tidak ada harganya dalam pandangan masyarakat. Akan tetapi ia memiliki kedudukan mulia menurut pandangan Allah dan Rasul-nya. Inilah bukti bahwa kecantikan fisik bukanlah tolak ukur kemuliaan seorang wanita. Kecuali kecantikan fisik yang digunakan dalam koridor yang syar’i. Yaitu yang hanya diperlihatkan kepada suaminya dan orang-orang yang halal baginya.
Kecantikan iman yang terpancar dari hatinyalah yang mengantarkan seorang wanita ke kedudukan yang mulia. Dengan ketaqwaannya, keimanannya, keindahan akhlaqnya, amalan-amalan shalihnya, seorang wanita yang buruk rupa di mata manusia pun akan menjelma menjadi secantik bidadari surga.
Bagaimanakah dengan wanita zaman sekarang yang sibuk memakai kosmetik ini-itu demi mendapatkan kulit yang putih tetapi enggan memutihkan hatinya? Mereka begitu khawatir akan segala hal yang bisa merusak kecantikkannya, tetapi tak khawatir bila iman dan hatinya yang bersih ternoda oleh noda-noda hitam kemaksiatan – semoga Allah Memberi mereka petunjuk -.
Kecantikan fisik bukanlah segalanya. Betapa banyak kecantikan fisik yang justru mengantarkan pemiliknya pada kemudahan dalam bermaksiat. Maka saudariku, seperti apapun rupamu, seperti apapun fisikmu, janganlah engkau merasa rendah diri. Syukurilah sebagai nikmat Allah yang sangat berharga. Cantikkanlah imanmu. Cantikkanlah hati dan akhlakmu.
Wahai saudariku, wanita hitam itu menderita penyakit ayan sehingga ia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta beliau agar berdoa kepada Allah untuk kesembuhannya. Seorang muslim boleh berusaha demi kesembuhan dari penyakit yang dideritanya. Asalkan cara yang dilakukannya tidak melanggar syariat.
Saudariku, penyakit ayan bukanlah penyakit yang ringan. Terlebih penyakit itu diderita oleh seorang wanita. Betapa besar rasa malu yang sering ditanggung para penderita penyakit ayan karena banyak anggota masyarakat yang masih menganggap penyakit ini sebagai penyakit yang menjijikkan.
Tapi, lihatlah perkataannya. Apakah engkau lihat satu kata saja yang menunjukkan bahwa ia benci terhadap takdir yang menimpanya? Apakah ia mengeluhkan betapa menderitanya ia? Betapa malunya ia karena menderita penyakit ayan? Tidak, bukan itu yang ia keluhkan. Justru ia mengeluhkan auratnya yang tersingkap saat penyakitnya kambuh.
Subhanallah. Ia adalah seorang wanita yang sangat khawatir bila auratnya tersingkap. Ia tahu betul akan kewajiban seorang wanita menutup auratnya dan ia berusaha melaksanakannya meski dalam keadaan sakit. Inilah salah satu ciri wanita shalihah, calon penghuni surga. Yaitu mempunyai sifat malu dan senantiasa berusaha menjaga kehormatannya dengan menutup auratnya. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang yang di saat sehat pun dengan rela hati membuka auratnya???
Saudariku, dalam hadits di atas terdapat pula dalil atas keutamaan sabar. Dan kesabaran merupakan salah satu sebab seseorang masuk ke dalam surga. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.” Wanita itu menjawab, “Aku pilih bersabar.”
Wanita itu lebih memilih bersabar walaupun harus menderita penyakit ayan agar bisa menjadi penghuni surga. Salah satu ciri wanita shalihah yang ditunjukkan oleh wanita itu lagi, bersabar menghadapi cobaan dengan kesabaran yang baik.
Saudariku, terkadang seorang hamba tidak mampu mencapai kedudukan kedudukan mulia di sisi Allah dengan seluruh amalan perbuatannya. Maka, Allah akan terus memberikan cobaan kepada hamba tersebut dengan suatu hal yang tidak disukainya. Kemudian Allah Memberi kesabaran kepadanya untuk menghadapi cobaan tersebut. Sehingga, dengan kesabarannya dalam menghadapi cobaan, sang hamba mencapai kedudukan mulia yang sebelumnya ia tidak dapat mencapainya dengan amalannya.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika datang suatu kedudukan mulia dari Allah untuk seorang hamba yang mana ia belum mencapainya dengan amalannya, maka Allah akan memberinya musibah pada tubuhnya atau hartanya atau anaknya, lalu Allah akan menyabarkannya hingga mencapai kedudukan mulia yang datang kepadanya.” (HR. Imam Ahmad. Dan hadits ini terdapat dalam silsilah Al-Haadits Ash-shahihah 2599)
Maka, saat cobaan menimpa, berusahalah untuk bersabar. Kita berharap, dengan kesabaran kita dalam menghadapi cobaan Allah akan Mengampuni dosa-dosa kita dan mengangkat kita ke kedudukan mulia di sisi-Nya.
Lalu wanita itu melanjutkan perkataannya, “Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.” Maka Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa kepada Allah agar auratnya tidak tersingkap. Wanita itu tetap menderita ayan akan tetapi auratnya tidak tersingkap.
Wahai saudariku, seorang wanita yang ingatannya sedang dalam keadaan tidak sadar, kemudian auratnya tak sengaja terbuka, maka tak ada dosa baginya. Karena hal ini di luar kemampuannya. Akan tetapi, lihatlah wanita tersebut. Bahkan di saat sakitnya, ia ingin auratnya tetap tertutup. Di saat ia sedang tak sadar disebabkan penyakitnya, ia ingin kehormatannya sebagai muslimah tetap terjaga. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang yang secara sadar justru membuka auratnya dan sama sekali tak merasa malu bila ada lelaki yang melihatnya? Maka, masihkah tersisa kehormatannya sebagai seorang muslimah?
Saudariku, semoga kita bisa belajar dan mengambil manfaat dari wanita penghuni surga tersebut. Wallahu Ta’ala a’lam.
Al-Imam Ibnul Qoyyimrahimahullah berkata:
“Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi segala sesuatu kunci untuk membukanya, Allah menjadikan kunci pembuka shalatadalah bersuci sebagaiman sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Kunci shalat adalah bersuci’, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kunci pembuka hajiadalah ihram, kunci kebajikan adalah kejujuran, kunci surga adalah tauhid, kunci ilmu adalah bagusnya bertanya dan mendengarkan, kunci kemenanganadalah kesabaran, kunci ditambahnya nikmat adalah syukur, kuncikewalian adalah mahabbah dan dzikir, kunci keberuntungan adalah takwa, kunci taufik adalah harap dan cemas kepada Allah ‘Azza wa Jalla, kuncidikabulkan adalah doa, kunci keinginan terhadap akhirat adalah zuhud di dunia, kunci keimanan adalah tafakkur pada hal yang diperintahkan Allah, keselamatan bagi-Nya, serta keikhlasan terhadap-Nya di dalam kecintaan, kebencian, melakukan, dan meninggalkan, kunci hidupnya hati adalah tadabbur al-Qur’an, beribadah di waktu sahur, dan meninggalkan dosa-dosa, kunci didapatkannya rahmat adalah ihsan di dalam peribadatan terhadap Khaliq dan berupaya memberi manfaat kepada para hamba-Nya, kunci rezekiadalah usaha bersama istighfar dan takwa, kunci kemuliaan adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, kunci persiapan untuk akhirat adalah pendeknya angan-angan, kunci semua kebaikan adalah keinginan terhadap Allah dan kampung akhirat, kunci semua kejelekan adalah cinta dunia dan panjangnya angan-angan.
“Ini adalah bab yang agung dari bab-bab ilmu yang paling bermanfaat, yaitu mengetahui pintu-pintu kebaikan dan kejelekan, tidaklah diberi taufik untuk mengetahuinya dan memperhatikannya kecuali seorang yang memiliki bagian dan taufik yang agung, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kunci bagi setiap kebaikan dan kejelekan, kunci dan pintu untuk masuk kepadanya sebagaimana Allah jadikan kesyirikan, kesombongan, berpaling dari apa yang disampaikan Allah kepada Rasul-Nya, dan lalai dari dzikir terhadap-Nya dan melaksanakan hak-Nya sebagai kunci ke neraka, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan khamr sebagai kunci segala dosa. Dia jadikan nyanyian sebagai kunci perzinaan, Dia jadikan melepaskan pandangan pada gamba-gambar sebagai kunci kegelisahan dan kegandrungan, Dia jadikan kemalasan dan kesantaian sebagai kuncikerugian dan luputnya segala sesuatu, Dia jadikan kemaksiatan-kemaksiatan sebagai kunci kekufuran, Dia jadikan dusta sebagai kuncikenifakan (kemunafikan -ed), Dia jadikan kekikiran dan ketamakan sebagai kunci kebakhilan, memutus silaturahim, serta mengambil harta dengan cara yang tidak halal dan Dia jadikan berpaling dari apa yang dibawa Rasul sebagai kunci segala kebid’ahan dan kesesatan.
“Perkara-perkara ini tidaklah membenarkannya kecuali setiap orang yang memiliki ilmu yang shahih dan akal yang bisa mengetahui dengannya apa yang ada dalam dirinya dan apa yang berwujud dari kebaikan dan kejelekan. Maka sepantasnya seorang hamba memperhatikan dengan sebaik-baiknya ilmu terhadap kunci-kunci ini dan kunci-kunci yang dijadikan untuknya.” (Hadil Arwah 1/48-49)
***
Artikel www.muslimah.or.id
Wanita..
Indahmu laksana bias pelangi.. Merekah indah di langit sore.. Mewarnai angkasa bak lukisan semesta..
Wanita..
Tanpamu dunia tak berwarna..
Wanita..
Pesonamu semerbak bak bunga merekah d taman..
Memancarx aroma yg bgt menawan tiap insan yg menatap.. Bahkan tak ada kumbang yg enggan menyapa..
Wanita..
Tanpamu.. Bungapun enggan merekah..
Duhai wanita bmata jelita.. Kau bgt menyadari pesonamu, kau bgt tahu indahmu.. Maka, berhentilah menebar wangimu.. Brapa bnyk kumbang yg harus kau sakiti, dgn perangkap d antara kelopakmu?
Tahukah kau wanita? Bahwa kelemahanmu adalah kekuatanmu. Tiap kali kau terjatuh, maka perhatikan btapa bnyk tangan mrk yg terulur u membantumu.. Dan berhati2lah dgn kekuatanmu itu, krn hanya dg seraut wajah sedihmu mampu mbuat sakit mrk yg tertawan olehmu..
Oh wanita.. Tidakkah kau sadari? Bahwa senyummu ibarat jaring yg siap menjerat?
Ku beri tahukan pdmu, jaring yg jarang terpakai akan mempunyai kekuatan y lbh kuat, maka jgn umbar senyummu. Tp coba perhatix, skali kau tersenyum pd mrk, maka kau mampu mbuatx tak dpt bpaling drmu hingga kau menghilang dr tatapanx. Tp wanita, berapa bnyk hati yg harus terkoyak dg senyummu? Maka berhati2lah dg senyummu itu..
Wanita.. Mereka berpikir kau bgt lemah tak berdaya.. Tp mrk salah, mrk lah yg lemah dg smua pesonamu..
Mereka bfikir kau yg bergantung pd mrk. Tp mrk salah, sekali dia terjerat padamu, maka selamax dia tak akan mampu terlepas darimu..
Mereka selalu berfikir kau y menangis merindux, tp mrk salah, kita memang menangis, tp air mata kita adalh obat yg mampu menyembuhkan luka.. Dan pd akhirx ktika kita melupaxnya, maka mrk yg akan merana krn rindu pdmu..
Maka ku katax pdmu wanita, berhentilah melemah2x dirimu, krn kau sbnrx bgt kuat..
Tak usah terpuruk dlm luka yg tak seberapa, krn telah ku katax, kau memiliki obat yg bgt ampuh..
Jgn pernah merutuki diri dlm kesalahan yg kau perbuat, bangkitlah.. Berdirilah.. Tatap dirimu, jgn pudarx pesonamu hanya u sebuah nama yg tak penting..
Jgn buang2 air matamu u dia yg tak berarti.. Krn lihatlah sebentar lg dia y akan menangisimu..
Duhai wanita.. Ku katax engkau memang bunga, tp ingatlah.. Mekarmu hanya sekali.. Hanya sekali..
Mereka bilang kerudungku seperti nenek-nenek
padahal rambut mereka seperti daun kering melambai.
Mereka bilang jilbabku ketinggalan zaman

padahal tank-top mereka seperti koteka zaman batu.
Mereka bilang ucapanku seperti orang yang ceramah
padahal rumpian mereka tak lebih indah dari dengungan segerombol lebah.
Mereka bilang cara berfikirku ”ketuaan”
padahal umur kepala dua mereka tidak menjadikannya lebih dewasa dari seorang anak kecil berumur 5 tahun.
Mereka bilang tingkah polahku tidak enerjik,
padahal laku mereka lebih menyerupai banteng seruduk sana-seruduk sini.
Mereka bilang dandananku pucat,
padahal penampilan mereka lebih mirip dengan ondel-ondel
Mereka bilang aku nggak gaul,
padahal untuk mengenal konspirasi saja
mereka geleng-geleng.
Mereka bilang:
aku sok suci
aku tidak menikmati hidup
aku nggak ngalir
aku fanatik sok lebay
dan sok bau surga.
Ku jawab:
Ya, aku berusaha untuk terus mensucikan diri.
Karena najis tidak pernah mendapatkan tempat dimanapun berada,
meskipun letaknya di atas tahta emas.
Ya, aku tidak menikmati hidup ini. Karena hidup yang kudambakan bukan hidup yang seperti ini yang lebih buruk dari hidupnya binatang ternak
Ya, aku nggak ngalir. Aku adalah ikan yang akan terus bergerak, tidak terseret air yang mengalir sederas apapun alirannya. Karena aku tidak ingin jatuh ke dalam pembuangan.
Ya, aku fanatik. Karena fanatik dalam kebenaran yang sesuai fitrah adalah menyenangkan dibanding fanatik dalam kesalahan yang fatrah (kufur)
Ya, aku memang sok lebay. Karena aku adalah manusia yang lemah yang terserang makhluk kecil macam virus saja tubuhku sudah ambruk, manusia yang bodoh yang tidak mengetahui nasib hidupku satu detik setelah ini, manusia yang serba kurang dan punya batas waktu yang ketika waktu itu habis aku tidak bisa mengulurnya ataupun mempercepatnya
Ya, aku ingin mencium bau surga yang dijanjikan Tuhanku yang baunya dapat tercium dari jarak ratusan tahun cahaya. Betapa meruginya orang yang tidak bisa mencium bau surga, karena itu menandakan betapa jauhnya posisinya dari surga...
Kullu maa huwa aatin qoribun
Segala sesuatu yang pasti datang itu dekat...
Manusia dibekali Islam dan Muhammad sebagai pembawa huda dan haq
Juga, manusia juga dibekali akal oleh Tuhannya
Namun, manusia diberi kebebasan memilih untuk hidupnya
Dan, there is only one choice
Untuk itulah aku memilih jalanku
Memilih jalan hidupku
Hidup yang aku dambakan
Mendamba apa yang telah dijanjikanNya
Janji yang tak akan pernah diingkari
Whatever... what they said
“Jika kamu menuruti kebanyakan manusia yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (Qs. Al-An’am 116).
"Allah tidak akan mengingkari janji-janjiNya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (Qs. Ar-Rum 6).
oleh Teuku Ghoffal Abu Nabiel
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah mengatakan: "Di antara adab seorang penuntut ilmu syar'i terhadap dirinya sendiri adalah: "Berhias dengan MURU-AH (kehormatan)."
Hendaklah setiap penuntut ilmu syar'i senantiasa berhias dengan muru-ah dan segala yang bisa membawamu kepada muru-ah dengan selalu:
1. Berakhlak mulia.
2. Berwajah manis saat bertemu seseorang.
3. Menyebarkan salam.
4. Menolong orang lain.
5. Tegas tanpa sombong.
6. Gagah berani tanpa kediktatoran.
7. Bersikap ksatria tanpa harus fanatik golongan.
8. Punya semangat yang menggelora tanpa harus seperti orang-orang jahiliyyah.
Apakah Sifat Muru-ah Itu?
Para fuqaha (ahli fiqih) memberikan definisi dalam pembahasan mereka mengenai masalah persaksian bahwa muru-ah adalah melakukan segala perbuatan yang bisa membuatnya terhormat serta menjauhi segala yang bisa merendahkan martabatnya.
Apakah yang dimaksud dengan akhlak yang mulia?
Akhlak yang mulia adalah manakala seseorang mampu bersikap toleran sekaligus bisa tegas pada saatnya yang tepat.
Juga termasuk akhlak yang mulia adalah bermuka manis saat bertemu seseorang. Dari Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku:
"Janganlah engkau meremehkan kebaikan, meskipun cuma sekedar bermuka manis saat bertemu saudaramu." [HR. Muslim (2626)]
Namun, apakah ini berarti saya harus bermuka manis pada setiap orang meskipun pada gembong penjahat? Atau harus lihat situasi dan kondisi?
Jawabnya: "Sesuai situasi dan kondisi."
Saya bermuka manis hanya kepada enam orang, padahal jumlah mereka ada sembilan orang. Apa maknanya? Yakni, saya bermuka manis terhadap dua pertiga dari kelompok tersebut, adapun terhadap sepertiga yang lainnya? Biarkan saja mereka karena keadaan mereka yang mengharuskan untuk disikapi demikian.
Hendaknya engkau selalu bermanis muka, inilah sikap yang paling baik yang bisa membuat orang lain senang kepadamu. Mereka akan berani mengungkapkan sesuatu yang menjadi rahasia mereka kepadamu. Jika engkau senantiasa berwajah CEMBERUT dan bermuka masam, niscaya mereka akan takut dan tidak berani berbicara denganmu.
Namun, JIKA KEADAAN MENGHARUSKANMU untuk TIDAK bermanis muka pada mereka, lakukanlah. Dari sini ketahuilah bahwa sikap bermuka masam tidak selamanya tercela, juga orang yang senantiasa bermuka manis tidak selamanya terpuji.
Perkataan Syaikh selanjutnya: Menyebarkan salam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda;
"Kalian tidak akan masuk Surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sehingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian amalkan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian." [HR. Muslim ((54)]
Apakah itu berarti harus menyampaikannya dan mengucapkannya kepada setiap orang?
Tidak, akan tetapi cuma diucapkan kepada orang-orang yang berhak menerima salam, yaitu orang Muslim walaupun dia ahli maksiat, ataupun pezina, pencuri, pemakan riba, peminum khamr (arak), ataupun dia seorang yang fasik, (maka) ucapkanlah salam kepada mereka. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Tidak halal bagi seorang Muslim untuk mendiamkan saudaranya sesama Muslim lebih dari tiga hari, ketika keduanya bertemu mereka saling memalingkan muka. Dan yang paling baik di antara keduanya adalah YANG LEBIH DULU mengucapkan salam." [HR. Bukhari (5883)]
Namun, jika ada seorang Mukmin yang melakukan suatu hal yang munkar, lebih-lebih kemunkaran yang sangat besar yang bisa menghancurkan masyarakat Islam, saat itu wajib menjauhinya (hajr) KALAU ADA MANFAATNYA.
Pada dasarnya, menyebarkan salam adalah untuk setiap orang Muslim, terkecuali orang yang TERANG-TERANGAN berbuat maksiat. Maka dia didiamkan (hajr), JIKA MEMANG DENGAN MENDIAMKANNYA DIA AKAN MENJADI SADAR.
Adapun terhadap non Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Janganlah memulai salam kepada orang Yahudi dan Nasrani." [HR. Muslim (2167)]
Kita diharamkan untuk mendahului salam kepada orang Yahudi maupun Nasrani. Demikian juga terhadap orang kafir lainnya yang lebih jelek dari mereka. Namun, jika mereka yang lebih dulu mengucapkan salam maka kita boleh menjawabnya, berdasarkan firman Allah Ta'ala;
وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا
"Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa)." (An-Nisaa': 86)
Jika mereka mengucapkan "assalamu'alaikum", maka dengan tegas kita jawab "wa'alaikumussalam". Karena, itulah makna tekstual firman Allah "maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa)."
Nabi manakala mengajarkan kepada kita untuk menjawab dengan "wa'alaikum", karena orang-orang Yahudi dan Nasrani itu sesungguhnya mengucapkan "as-saamu'alaikum" (kecelakaan bagimu) sebagaimana telah dijelaskan dalam sebuah hadits dari ABdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya orang-orang Yahudi atau Ahli Kitab itu mengucapkan (as-saamu'alaikum), maka jika mereka mengucapkan salam (tersebut) kepadamu, jawablah dengan wa'alaikum (dan juga bagi kalian." [HR. Bukhari (5902) dan Muslim (2164)]
Ada juga sebagian orang yang tidak mau mengucapkan salam terhadap orang lain yang berbeda manhaj walaupun sebenarnya sat tujuan. Kenyataan yang terjadi sekarang adalah mereka saling berdebat dengan lisan-lisan mereka, saling mencaci dan saling menjauhi.
Sebenarnya, kelompok-kelompok tersebut wajib saling mengucapkan salam, saling menasihati, serta saling MEMBERIKAN PENJELASAN kepada sudaranya seiman tentang kesalahannya sehingga kesalahan itu bisa segera dibenahi, yang dengannya hati kita akan saling bertautan.
Maka hindarilah hal-hal yang dapat merusak kehormatan, baik dalam watak (perangai), perkataan, perbuatan, sikap yang rendah dan jelek lainnya seperti ujub (berbangga diri), riya', sombong, takabbur, meremehkan orang lain, serta mengunjungi tempat-tempat kotor yang penuh syubhat.
Perkataan Syaikh: "Mengunjungi tempat-tempat kotor yang penuh syubhat."
Maksudnya adalah tempat-tempat yang akan membuat orang meragukan dirinya, kehormatan, serta akhlaknya, maka seharusnya DIHINDARI. Semoga Allah merahmati orang yang bisa membuat orang lain tidak menggunjingnya. Amin.
(Dikutip dari buku Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu, Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Jakarta, dengan diringkas)
Bagi saudaraku fillah yang senang bercanda-ria dengan lawan jenis yang bukan mahram, hendaklah senantiasa mengingat hadits berikut:
"Sesungguhnya sesuatu yang dikenal oleh orang dari ucapan para nabi sejak awal adalah JIKA ENGKAU TIDAK MALU, berbuatlah sesukamu." [HR. Bukhari (6/380). Mukhtashar Syu'abil Iman, Al-Imam Abul Ma'aly al-Qazwiini]
Malu adalah akhlak yang tumbuh untuk meninggalkan hal-hal yang jelek, mencegah dari berlebih-lebihan dari mengambil haknya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyempurnakan makna malu ini dalam hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi secara marfu. Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Malulah kalian KEPADA ALLAH dengan sebenar-benarnya malu." Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami malu, Ya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.' Beliau berkata, 'Bukan demikian, tetapi orang yang benar-benar malu pada Allah adalah orang yang menjaga kepalanya dan apa-apa yang memenuhinya, dan menjaga perutnya dan apa-apa yang memenuhinya, serta mengingat kematian dan hal-hal yang akan binasa. Barangsiapa yang menginginkan akhirat maka hendaklah MENINGGALKAN PERHIASAN DUNIA. Barangsiapa yang melakukan semua ini maka ia TELAH BENAR-BENAR MALU kepada Allah."
Para ulama berbeda pendapat tentang kuat dan lemahnya malu berdasarkan hidup dan matinya hati. Jika hati hidup, maka sempurnalah malunya, begitu pun sebaliknya.
Hadits Salim bin Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma dalam Shahihain, dari bapaknya dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, sesungguhnya ia mendengar seorang lelaki memberi nasihat kepada saudaranya tentang malu, ia berkata:
"Bersikap malulah kamu, karena sesungguhnya malu itu bagian dari keimanan." [HR. Bukhari (1/69) dan Muslim (36)]
Hadits Imran bin Husain radhiyallahu 'anhu dalam keduanya:
"Sesungguhnya malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan." [HR. Bukhari (10/433), Muslim (37) dan Abu Dawud (4796)]
Adapun ucapan "berbuatlah sesukamu" sebagaimana dalam status di atas, adalah merupakan ANCAMAN, yaitu maksudnya adalah, sesungguhnya orang yang tidak merasa malu maka ia akan berbuat sekehendaknya, sehingga (rasa) malu-lah yang (akan) MENCEGAH seseorang untuk melakukan sebuah perbuatan yang (dapat) menjatuhkan kemuliaan dan harga dirinya.
Allah Ta'ala berfirman:
“Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah KESENANGAN YANG MENIPU.” (Al-Hadid: 20)
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ألا إن الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله وما والاه وعالم أو متعلم
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya dunia itu terlaknat, dan terlaknat pula apa-apa yang ada di dalamnya. Kecuali dzikir kepada Allah, apa-apa yang mendekatkan diri kepada-Nya, orang yang mengajarkan ilmu, atau orang yang belajar ilmu."
[Hadits shahih; diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 2322), Ibnu Majah (no. 4112), Al-Baihaqi dalam Syu’abul-Iman (no. 1708), dan Ibnu Abi ‘Aashim dalam Az-Zuhd (no. 57). Dari jalur ‘Abdurrahman bin Tsaabit, ia berkata: "Aku mendengar ‘Atha’ bin Qurrah berkata: Aku mendengar ‘Abdullah bin Hamzah berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: (lalu ia menyebutkan hadits tersebut)." Syaikh Saliim bin 'Ied Al-Hilaliy berkata: Sanadnya hasan."]
(dikutip dengan sedikit diringkas dari kitab Mukhtashar Syu'abil Iman, karya Al-Imam Abul Ma'aly al-Qazwiini, yang merupakan ringkasan dari kitab Syu'abil Iman, karya Al-Imam Al-Baihaqi)








