kesepakatan penyihir tukang santet dll dengan syaithon




Seringkali terjadi kesepakatan antara tukang sihir dengan syaitan, bahwa pihak pertama, yaitu tukang sihir, akan mengerjakan beberapa kesyirikan, atau kekufuran yang nyata baik secara terselubung maupun terang-terangan sedangkan pihak syaitan akan melayani tukang sihir atau menundukkan orang yang akan melayani si tukang sihir.
Karena kesepakatan itu seringkali terjadi antara tukang sihir dan syaitan dari para pemuka kabilah jin dan syaitan, sehingga sang pemuka ini akan mengeluarkan perintah kepada anggota kabilah yang paling bodoh untuk melayani si tukang sihir ini serta mentaatinya dalam menjalankan semua perintahnya, yaitu memberitahukan berbagai hal yang telah terjadi atau melakukan upaya memisahkan dua belah pihak atau menyatukan cinta dua orang, atau menghalangi seorang suami agar tidak dapat mencampuri istrinya dan sebagainya. Perkara-perkara ini akan kita bahas dengan rinci, (pada pembahasan berikutnya), insya Allah Ta’ala.

Selanjutnya si tukang sihir mengerahkan jin ini untuk mengerjakan perbuatan jahat yang dia inginkan. Jika si jin tidak mentaatinya, maka dia akan mendekati pemuka kabilah jin itu dengan menggunakan berbagai macam jimat yang isinya berupa pengagungan pemuka kabilah ini seraya meminta pertolongan kepadanya dengan menyisihkan Allah Ta’ala. Maka, si pemuka jin inipun segera memberikan hukuman kepada jin tersebut dan menyuruhnya agar mentaati si tukang sihir atau dia akan menggantikan dengan jin yang lain untuk melayani tukang sihir yang musyrik itu.

Oleh karena itu kita bisa mendapatkan hubungan antara tukang sihir dengan jin yang ditugaskan untuk melayaninya sebagai hubungan kebencian dan permusuhan. Dan dari sini kita akan dapatkan bahwa jin tersebut seringkali menyakiti istri dan anak-anak tukang sihir itu atau mengganggu harta bendanya atau yang lainnya. Bahkan, terkadang jin itu menyakiti tukang sihir itu sendiri tanpa disadarinya, misalnya pusing yang terus-menerus, gangguan yang sering muncul pada saat tidur, atau kecemasan pada malam hari dan lain sebagainya. Bahkan seringkali tukang sihir yang hina tersebut tidak punya anak, karena jin yang melayaninya telah membunuh janin yang masih ada di dalam rahim sebelum penciptaannya sempurna. Yang demikian itu sudah sangat populer di kalangan para tukang sihir, bahkan sebagian mereka ada yang meninggalkan profesi tukang sihir ini agar mereka bisa mendapatkan keturunan.

Perlu saya ceritakan, saya pernah mengobati seorang wanita yang sedang sakit karena tersihir. Pada saat saya bacakan al-Qur’an di dekatnya, maka jin yang di tugaskan tukang sihir itu berbicara melalui lidah wanita tersebut, ‘Aku tidak bisa keluar dari tubuh wanita ini’. ‘Mengapa?’ tanyaku. Dia pun menjawab, ‘Karena aku takut akan dibunuh oleh si tukang sihir’. Selanjutnya, aku tanyakan, ‘Pergilah dari tempat ini ke tempat lain yang tidak diketahui oleh si tukang sihir yang menyuruhmu’. ‘Dia pasti akan mengirim jin lain untuk mencariku’, sahut jin tersebut.

Kemudian kukatakan kepadanya, ‘Jika kamu mau masuk Islam dan mengumumkan taubatmu dengan penuh kejujuran dan tulus ikhlas, maka kami dengan pertolongan Allah akan mengajarimu beberapa ayat al-Qur’an yang dapat menjaga dan melindungimu dari kejahatan jin-jin kafir. Maka dia pun menjawab, ‘Tidak, aku tidak akan pernah masuk Islam, dan aku akan tetap menjadi pemeluk Nasrani’. Tidak ada paksaan dalam memeluk agama, tetapi yang paling penting kamu harus keluar dari tubuh wanita ini’, pintaku kepadanya. ‘Aku tidak akan keluar dari tubuhnya’, jawabnya pasti. Kemudian aku katakan, ‘Kalau begitu, dengan pertolongan Allah, sekarang kami bisa membacakan al-Qur’an kepadamu sehingga kamu akan terbakar’. Lalu aku memukulnya dengan keras sehingga jin itu menangis. Maka jin itu berkata, ‘Aku akan keluar, aku akan keluar’. Selanjutnya, segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, dan segala karunia itu hanya milik-Nya semata, jin itu pun keluar dari tubuhnya.
Sebagaimana diketahui bersama, jika tukang sihir itu semakin kufur dan bertambah jahat, maka jin akan lebih mentaatinya dan akan segera malaksanakan tugas yang diperintahkan kepadanya. Begitu juga sebaliknya.

[Disalin dari kitab Ash-Shaarimul Battaar Fit Tashaddi Lis Saharatil Asyraar edisi Indonesia Sihir & Guna-Guna Serta Tata Cara Mengobatinya Menurut Al-Qur'an Dan Sunnah, Penulis Wahid bin Abdissalam Baali, Terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i]

konsep benci dan cinta dalam islam



25

Dalam Islam dikenal konsep Wala wal Bara’ (cinta dan benci) yang merupakan konsekuensi dari iman yang benar. Inti ajaran Islam adalah mengajak ummat manusia untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata. Konsekuensinya, seorang mukmin akan mencintai segala bentuk peribadatan dan ketaatan kepada Allah semata dan mencintai orang-orang yang melakukan demikian.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam juga bersabda: “Orang yang mencintai sesuatu karena Allah, membenci sesuatu karena Allah, memberi karena Allah, melarang sesuatu karena Allah, imannya telah sempurna” (HR. Abu Daud no. 4681, di-shahih-kan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud).
Konsekuensi lain adalah kebalikan dari itu, seorang mukmin akan membenci segala bentuk penyembahan kepada selain Allah dan maksiat, serta membenci orang-orang yang melakukan demikian. Sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya): “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. Al-Mujadalah: 22)

Ringkasnya, seorang mukmin sejati mencintai orang-orang yang menyembah Allah Ta’ala semata dan melakukan ketaatan kepada-Nya, baik ia berbeda suku, berbeda negara, berbeda warna kulit, berbeda bahasa, berbeda martabat. Dan seorang mukmin dalam hatinya memiliki rasa benci kepada orang yang menyembah kepada selain Allah dan membenci orang yang banyak melakukan maksiat, meskipun ia satu negara, meskipun ia satu bahasa, sama warna kulitnya, meskipun ia teman sepermainan, meskipun ia adalah orang tuanya, anaknya,atau keluarganya. Inilah konsep cinta dan benci dalam Islam.


Cinta dan Benci Orang Jahiliyah

Masa Jahiliyyah adalah masa sebelum di utusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Dan pada saat itu dunia diliputi kebodohan terhadap agama, kesesatan, penyimpangan dan kemusyrikan (Lihat Syarh Masa’il Jahiliyyah (8), Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan). Oleh karena itu Allah Ta’ala banyak mencap buruk orang-orang pada masa Jahiliyyah dalam Al Qur’an Al Karim. Misalnya firman Allah Ta’ala (yang artinya): “(Wahai kaum wanita), hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian ber-tabarruj sebagaimana orang-orang Jahiliyah yang terdahulu” (QS. Al Ahdzab: 33). Sehingga Islam melarang ummat-Nya berperilaku sebagaimana perilaku orang-orang Jahiliyyah secara umum.

Lalu bagaimanakah konsep cinta dan benci yang diterapkan orang-orang Jahiliyyah? Cinta dan benci mereka dibangun atas dasar kesamaan suku dan bangsa. Ketika dua suku berseteru, mereka membenci orang-orang yang masih satu suku bangsa dan membenci orang-orang yang berbeda suku bangsa. Sebagaimana diceritakan sebuah hadits:

“Suatu ketika di Gaza, (dalam sebuah pasukan) ada seorang dari suku Muhajirin mendorong seorang lelaki dari suku Anshar. Orang Anshar tadi pun berteriak: ‘Wahai orang Anshar (ayo berpihak padaku)’. Orang Muhajirin tersebut pun berteriak: ‘Wahai orang Muhajirin (ayo berpihak padaku)’. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun mendengar kejadian tersebut, beliau bersabda: ‘Pada diri kalian masih terdapat seruan-seruan Jahiliyyah’. Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, seorang muhajirin telah mendorong seorang dari suku Anshar’. Beliau bersabda: ‘Tinggalkan sikap yang demikian, karena yang demikian adalah perbuatan busuk’ ” (HR. Al Bukhari no.4905)

Perhatikan dengan baik hadits yang mulia ini. Muhajirin dan Anshar adalah dua kaum yang mulia yang dipuji oleh Allah Ta’ala. Namun tatkala mereka menyerukan fanatisme kesukuan, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyatakan bahwa sikap tersebut adalah perangai Jahiliyah, bahkan beliau melaknat perbuatan tersebut. Bagaimana lagi dengan kita?

Jangan Berpecah Belah

Perpecahan umat Islam adalah sesuatu yang tercela dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” (QS. Al Imran: 104). Dan sebaliknya, Islam memerintahkan ummat-Nya untuk bersatu-padu. Dan perintah untuk bersatu ini ditujukan kepada setiap Muslim di seluruh dunia, tidak hanya antar ummat Muslim di satu negara saja. Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (QS. Al Imran: 102-103)

Dalam ayat di atas, jelas sekali bahwa perintah untuk bersatu ditujukan untuk setiap Muslim, bukan hanya muslim yang sebangsa saja. Oleh karena itu, perselisihan antar umat Islam baik yang satu negara ataupun berbeda negara adalah sumber kebinasaan. Maka bersatulah wahai kaum muslimin di negara manapun engkau berada!

Muslim Itu Bersaudara

Seorang muslim mempersembahkan cintanya yang paling besar dan yang paling tulus kepada Allah Ta’ala. Cinta ini tidak boleh pupus oleh cinta lain. Cinta kepada Allah tidak boleh ditenggelamkan oleh cinta seseorang kepada keluarganya, bahkan kepada kedua orang tuanya. Konsekuensinya, siapapun yang mencintai Allah Ta’ala, berhak untuk kita cintai. Sebaliknya, siapapun yang mendurhakai Allah Ta’ala, layak untuk kita benci. Rasa cinta kepada Allah inilah yang mengikat setiap muslim dalam lingkar persaudaraan yang mulia. Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu” (QS. Al Hujurat: 10). Oleh karena itu, wahai kaum muslimin, berbuat baiklah kepada sesama muslim layaknya saudara!

Apakah seseorang akan membenci saudaranya? Apakah ia akan menjauhi saudaranya? Apakah ia akan menghina saudaranya? Apakah ia akan menzhalimi saudaranya? Sama sekali tidak. Maka demikianlah sepatutnya seorang muslim.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Jangan kalian saling hasad, jangan saling mencurangi, jangan saling membenci, jangan saling menjauhi, jangan kalian menawar barang yang sedang ditawar orang lain. Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh menzhaliminya, tidak boleh membohonginya dan tidak boleh menghinanya” (HR. Muslim no.2564)

Berlombalah dalam Kebaikan, bukan Dalam Maksiat

Miris rasanya melihat umat muslim berselisih, bertengkar dan berseteru disebabkan rasa iri dan dengki dalam kemaksiatan. Mereka membangga-banggakan diri atas perkara maksiat dan saling dengki satu sama lain.

Contohnya, mereka berseteru karena musik. Padahal Allah Ta’ala tidak ridha terhadap hal tersebut. Allah berfirman: “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan lahwal hadits untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah” (QS. Luqman: 6) Sebagian ahli tafsir, juga sahabat yang mulia, Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu menjelaskan bahwa yang dimaksud lahwal hadits di dalam ayat ini adalah nyanyian. Rasul kita Shallallahu’alaihi Wasallam juga pernah bersabda, “Akan ada beberapa kaum dari ummatku yang menghalalkan zina dan sutra, serta khamr dan alat musik” (Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq dengan lafazh jazm/tegas . Al Imam Ibnul Qayyim telah membantah anggapan yang mengatakan bahwa hadits ini dhaif. Hadits di atas dinilai sahih oleh banyak ulama, di antaranya: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Istiqomah (1/294) dan Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan (1/259). Penilaian senada disampaikan An Nawawi, Ibnu Rajab Al Hambali, Ibnu Hajar dan Asy Syaukani –rahimahumullah-)

Hadits ini jelas menunjukkan keharaman musik. Dan Nabi kita Shallallahu’alaihi Wasallam tidak ridha terhadapnya. Jika Allah Ta’ala dan Rasul-Nya tidak ridha, mengapa kita malah mencintainya? Dan malah berbangga-bangga dengannya? Dan menjadikannya bahan perseteruan?

Tarian yang dilakukan para wanita dengan memamerkan aurat mereka, kemudian berlenggak-lenggok gemulai di depan orang banyak, sungguh mereka telah bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Namun hal ini malah dijadikan kebanggaan dan menjadi sebab pertikaian!? Padahal Rasul kita Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Ada dua jenis manusia penghuni neraka yang aku belum pernah melihat sebelumnya. Yang pertama yaitu orang yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka mencambuki orang lain. Yang kedua yaitu wanita yang berpakaian namun sebenarnya telanjang, mereka berjalan berlenggak-lenggok. Kepala mereka seperti punuk unta yang bergoyang. Mereka tidak masuk surga, bahkan tidak mencium wanginya surga. Padahal wanginya surga dapat tercium dari jarah yang sangat jauh” (HR. Muslim no. 2128)

Wahai kaum muslimin, buktikan cintamu kepada Allah. Berhentilah berbangga dan berlomba dalam hal yang tidak diridhai Allah Ta’ala! Berlombalah dalam kebaikan dan ketaqwaan! Bukankah anda pernah mendengar firman Allah Ta’ala: “Sungguh, yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa” (QS. Al Hujurat: 13)

Maka irilah kepada saudaramu yang hafal Al Qur’an, irilah kepada saudaramu yang paham ilmu agama, irilah pada saudaramu yang giat beribadah, irilah pada saudaramu yang zuhud dan qanaah. Berusahalah menandingi mereka dalam hal tersebut. Irilah jika ada negeri lain yang masyarakatnya lebih shalih, dan berusahalah menjadikan negeri kita ini lebih shalih dari negeri tersebut.

Benarkah Nasionalisme Bagian Dari Iman?


Pada sebuah kesempatan, Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al ‘Uqail rahimahullah, seorang ulama besar dari Unaizah, ditanya: “Bagaimana dengan ungkapan yang banyak tersebar di masyarakat, yaitu: “Cinta tanah air (wathon) adalah bagian dari iman”. Apakah ungkapan ini adalah sebuah hadits yang shahih?”

Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al ‘Uqail rahimahullah, menjawab: “Menurutku, andaikan hadits ini shahih, bisa dibenarkan jika wathon kita artikan sebagai:

1. Surga, karena surga adalah negeri pertama bagi keturunan Adam ‘Alaihissalam
2. Mekkah, karena Mekkah adalah Ummul Quraa (Ibu kota dari semua kota) dan kiblatnya orang alim
3. Negeri yang baik, namun dengan syarat cinta kepada negeri dikarenakan adanya itikad untuk menyambung silaturahim, atau berbuat baik kepada penduduk negeri tersebut, misalnya kepada orang fakir dan anak yatim (bukan karena semangat nasionalisme, pent) [Demikian penjelasan Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz Al 'Uqail, dikutip dari Mauqi' Al Islam]

Ulama pakar hadits abad ini, Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah berkata: “Hadits ini adalah hadits palsu. As Shaghani dan ulama yang lain berkata: ‘Makna hadits ini tidak benar. Karena kecintaan kepada tanah air seperti mencintai diri sendiri, mencintai harta, dan semacamnya. Ini semua merupakan sifat-sifat manusiawi. Sehingga seseorang yang mencintai hal-hal tersebut tidak serta-merta dipuji. Oleh karena itu mencintai tanah air bukan bagian dari iman. Bukankah anda melihat bahwa semua manusia memiliki sifat ini? Baik yang mu’min maupun yang kafir tanpa terkecuali.’ (Silsilah Ahadits Adh Dhaifah, 36)

Nasionalisme yang Dibenarkan Islam


Berbicara tentang cinta tanah air, memang benar bahwa mencintai tanah kelahiran adalah hal yang manusiawi. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun mencintai tempat kelahiran beliau, Makkah. Sampai-sampai beliau bersabda, “Wahai Makkah, tidak ada negeri yang lebih baik dan lebih kucintai dari pada engkau. Andai kaumku tidak mengusirku darimu, aku tidak akan pernah tinggal di negeri lain” (HR. At Tirmidzi no.3926, di-shahih-kan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)

Namun beliau mencintai Makkah bukan karena semata-mata tempat kelahiran, namun karena Makkah adalah negeri kaum muslimin, negeri tauhid yang diwariskan Ibrahim ‘Alahissalam. Oleh karena itu beliau pun mencintai Madinah, yang juga negeri kaum muslimin, walaupun bukan tempat kelahiran beliau. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ketika peristiwa hijrah ke Madinah, “Ya Allah, berikanlah kami rasa cinta terhadap Madinah sebagaimana kami mencintai Makkah, atau bahkan cinta yang lebih besar dari itu” (HR. Bukhari no.6372)

Maka nasionalisme yang benar adalah nasionalisme yang didasari rasa cinta kepada Allah Ta’ala. Yaitu mencintai negeri tempat kelahiran kita yang merupakan negeri kaum muslimin, karena Islam ditegakkan di dalamnya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan: “Tanah air dicintai jika ia merupakan negeri kaum muslimin. Setiap orang wajib bersemangat untuk berbuat kebaikan di negerinya, juga di negeri lain yang merupakan negeri kaum muslimin. Setiap orang juga wajib mengusahakan keluarga dan kerabatnya tinggal di negeri kaum muslimin” (Fatawa Wal Maqalat Mutanawwi’ah, Juz 9, http://www.binbaz.org.sa/mat/2078 )

Selain itu, sebagaimana dijelaskan Syaikh Al Uqail, semangat cinta tanah air dapat dibenarkan jika diniatkan dalam rangka ingin berbuat baik kepada masyarakatnya. Dengan kata lain, ia mencintai negerinya karena orang-orang yang ia sayangi berada di negeri tersebut, dan ia ingin berbuat baik kepada mereka. Karena memang Islam mengajarkan untuk mendahulukan orang-orang terdekat dalam berbuat kebaikan. Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At Tahrim: 5)

Allah Ta’ala juga berfirman: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat….” (QS. An Nisa: 36)

Oleh karena itu, kami mengajak kaum muslimin sekalian untuk meninggalkan semangat nasionalisme Jahiliyyah dan beralih kepada semangat nasionalisme di dasari rasa cinta kepada Allah Ta’ala. Hentikan pertikaian antara saudara seiman! Kemudian mari kita bersama membangun negeri kita ini dalam setiap aspek kehidupan, sehingga kaum muslimin kuat dan kokoh. Mari kita dukung program-program pemerintah yang sejalan dengan nilai-nilai Islami, dan mari unggulkan negeri kita ini dalam hal kebaikan dan ketaqwaan.

Mudah-mudahan Allah menjadikan negeri kita ini menjadi negeri yang diridhaiNya, semoga pada negeri ini diturunkan rahmah serta keberkahan Allah di dalamnya. Dan semoga Allah menjadikan penduduknya menjadi orang-orang yang bertaqwa kepada Allah serta bersatu-padu menjalin persaudaraan yang kuat dan kokoh karena-Nya. Wallahul musta’an.  

resep es melon aneka jeli



Kali ini shalihah.com memberikan resep minuman yang dapat disajikan saat berbuka puasa. Selamat mencoba dan menikmati.

Bahan:

300 gram melon, dipotong bulat
250 gram jeli siap pakai (macam-macam bentuknya)[cari yang halal]
Bahan pelengkap:
500 gram es serut
50 ml susu kental manis putih
Bahan sirup:
200 gram gula pasir
300 ml air
1/8 sendok teh garam
2 tetes pewarna hijau tua
1/8 sendok teh esen melon

Cara membuat:

Sirup: rebus gula pasir, air, dan garam dengan api kecil sam pai larut. Tambahkan pewarna hijau dan esen melon.
Aduk rata. Angkat.
Masukkan melon. Diamkan sampai dingin.
Sajikan melon bersama Sirup, jeli siap pakai, dan pelengkap nya.
UNTUK 5 PORSI

resep spageti goreng sosis



Resep Shalihah kali ini menampilkan makanan bekal buat si kecil.

Bahan:

100 gram spageti, direbus
100 gram wortei, dipotong bunga
50 gram jamur kancing, dipotong 2 bagian
2 siung bawang putih, dicincang kasar
1/2 buah bawang bombay, dicincang kasar
3 buah sosis sapi, dipotong serong
1 sendok teh saus tomat
1 sendok makan kecap manis
1/2 sendok teh garam
1/4 sendok teh merica bubuk
1 batang daun bawang, diiris serong
150 ml kaldu sapi (dari rebusan tulang sapi)
1 butir telur, dikocok lepas, dibuat dadar rawis
3 lembar daun selada, diiris kasar untuk alas
1 sendok makan minyak untuk menumis

Cara membuat:

  1. Panaskan minyak. Tumis bawang putih dan bawang bombay sampai harum.
  2. Masukkan sosis sapi, jamur, dan wortel. Aduk rata.
  3. Tambahkan saus tomat, kecap manis, ga ram, dan merica bubuk. Aduk rata.
  4. Tuang kaldu sapi. Masak sampai meresap.
  5. Tam bahkan spagheti dan daun bawang. Aduk rata.
  6. Sajikan spagheti goreng dengan dialas irisan daun selada dan dadar rawis.
UNTUK 2 PORSI

resep chicken strip pedas

Resep Chicken Strip Pedas


Bahan :

  • Fillet dada ayam 250 gram, potong balok
  • Tepung terigu protein sedang 400 gram
  • Cabai bubuk 1 sendok teh
  • Baking powder 1 sendok teh
  • Air es 250 ml
  • Kaldu ayam bubuk 1 sendok makan
  • Minyak goreng 1 liter

Bumbu perendam :

  • Bawang putih 3 siung, haluskan
  • Merica bubuk 1 sendok teh
  • Cabai bubuk 1 sendok teh
  • Garam secukupnya
  • Minyak wijen 1 sendok makan

Cara memasak :

  1. Campur ayam dengan bumbu perendam. Diamkan selama 30 menit agar bumbu meresap.
  2. Adonan taburan : Campur terigu, cabai bubuk, baking powder dan kaldu ayam bubuk. Aduk rata.
  3. Pencelup : Ambil 50 gram campuran terigu. Tuang air es, aduk hingga rata dan licin. Tuang adonan dalam rendaman ayam.
  4. Ambil ayam satu per satu kemudian gulingkan dalam adonan taburan sambil diputar hingga seluruh permukaan ayam terlapisi tepung. Agar kulitnya tebal lakukan kegiatan melapis sebanyak 2 kali.
  5. Panaskan minyak, goreng ayam hingga matang dan kecokelatan. Angkat dan tiriskan.
  6. Sajikan hangat dengan saus tomat atau sambal.
Untuk 12 potong

resep krupuk paru pedas

Resep Kerupuk Paru Pedas


Bahan:

  • 500 gram paru, dibekukan, diiris tipis
  • 2 lembar daun salam
  • 1 sendok teh garam
  • 500 ml air
  • minyak untuk menggoreng
Bumbu pencelup:
  • 100 gram tepung beras
  • 25 gram tepung sagu
  • 200 ml santan dari 1/4 butir kelapa
Bumbu halus:
  • 4 siung bawang putih
  • 1/2 sendok makan ketumbar bubuk
  • 3 butir kemiri, disangrai
  • 1 1/2 sendok teh cabai bubuk
  • 1 sendok teh garam
  • 1/2 sendok teh merica bubuk

Cara membuat:

  1. Rebus paru iris, daun salam, garam, dan air sampai meresap. Tiriskan dan lap kering.
  2. Campur tepung beras, tepung sagu, dan bumbu halus. Aduk rata.
  3. Tuang santan sedikit-sedikit sambil diaduk sampai rata.
  4. Celupkan paru satu per satu ke dalam campuran tepung beras.
  5. Goreng dalam minyak yang sudah dipanaskan diatas api sedang sampai 1/2 matang. Angkat dan biarkan sampai dingin.
  6. Goreng lagi dalam minyak yang sudah dipanaskan di atas api sedang sampai kering.
Untuk 210 gram

yang pertama dari para wanita penggenggam bara

Yang Pertama dari Para Wanita Penggenggam Bara

Dialah wanita shalihah itu, yang hidup bersama sang suami dalam naungan kerajaan Fir’aun. Suaminya adalah orang dekat Fir’aun, sedang ia sendiri adalah pembantu dan pengasuh puteri-puteri Fir’aun.
Allah Ta’ala mengaruniakan keimanan kepada keduanya. Sang suami tidak sabar memberitahukan keimanannya kepada Fir’aun sehingga Fir’aun pun membunuhnya.
Sang istri tetap bekerja di rumah Fir’aun sebagai penyisir rambut puteri-puteri Fir’aun. Ia menafkahi kelima anaknya dan memberi mereka makan sebagaimana (kasih sayang) induk burung memberi makan anak-anaknya.
Suatu hari…, ketika ia menyisir rambut seorang puteri Fir’aun, terjatuhlah sisir dari genggamannya.
“Bismillaah,” ucapnya.
“Allah? Kenapa tidak ayahku?” sergah sang puteri Fir’aun.
“Tidak, tetapi Allah! Rabb-ku, Rabb-mu, dan Rabb ayahmu,” jawab sang penyisir kepada puteri Fir’aun.
Namun, sang puteri tidak terima apabila selain ayahnya disembah. Dan segera ia kabarkan hal itu kepada sang ayah.
Fir’aun merasa heran ada orang di dalam istananya yang menyembah selainnya.
Fir’aun pun memanggil sang penyisir rambut.
“Siapa Rabb-mu?” tanyanya.
“Rabb-ku dan rabb-mu adalah Allah,” jawabnya.
Diapun menyuruhnya untuk segera murtad dari agamanya. Diapun mengurung dan memukuli sang penyisir tetapi usahanya itu tak juga membuatnya murtad. Fir’aun minta disediakan panci dari tembaga yang dipenuhi minyak lalu dibakar hingga mendidih.
Wanita tersebut diberdirikan di hadapan panci tadi. Melihat siksaan itu, ia malah yakin bahwa dirinya hanyalah sebuah jiwa yang ketika keluar, ia pun akan degera menjumpai Allah Ta’ala. Fir’aun tahu, insan terkasih wanita itu adalah kelima buah hatinya, anak-anak yatim yang ia perjuangkan dan ia nafkahi. Dia hendak menambah siksaannya dengan menghadirkan kelima anaknya yang masih belia.
Mata mereka tampak kebingungan, mereka tidak tahu hendak digiring kemana… Ketika melihat sang ibu, mereka langsung mendekap erat sambil menangis. Sang ibu tundukkan badan, memeluk, mencium, dan mengecup mereka sambil menangis tersedu. Ia raih yang terkecil di antara mereka, Ia dekap ke dadanya dan ia susui.
Melihat pemandangan ini, Fir’aun memerintahkan tentaranya untuk mengambil anak sulungnya. Para tentara itu segera menyeret untuk menceburkannya ke dalam minyak yang sedang mendidih. Sang anak memanggil-manggil ibunya. Ia meminta tolong sambil memelas di hadapan para tentara dan mengiba kepada Fir’aun. Ia terus meronta, berusaha melepaskan dan melarikan diri.
Ia memanggil-manggil adik-adiknya, ia pukuli para tentara dengan kedua tangan mungilnya. Para tentara pun melempar dan mendorongnya. Sang ibu hanya bisa memandang dan melepas kepergiannya.
Tak lama berselang, anak kecil itu pun dilempar ke dalam minyak. Sang ibu hanya bisa menangis sambil memandanginya, sedangkan saudara-saudaranya menutup mata mereka dengan tangan-tangan mungil mereka. Hingga, tatkala daging tubuh bagian atasnya yang ringkih meleleh dan tulang belulangnya yang putih mengambang di atas minyak, Fir’aun memalingkan pandangannya kepada sang ibu dan menyuruhnya kufur kepada Allah. Namun, sang ibu menolak…
Fir’aun pun murka, ia menyuruh untuk mengambil anak keduanya. Ia ditarik paksa dari sisi sang ibu. Ia meraung-raung meminta tolong. Hanya beberapa saat, iapun dilempar ke dalam minyak. Lagi-lagi, sang ibu hanya bisa memandanginya. Hinga tulang-belulangnya yang putih mengapung dan bercampur dengan tulang saudaranya. Sang ibu tetap tegar dalam agamanya. Ia yakin akan perjumpaan dengan Rabb-nya.
Fir’aun kembali menyuruh untuk mengambil anak ketiga. Ia langsung diseret dan didekatkan ke panci yang tengah mendidih itu. Ia segera diangkat dan diceburkan ke dalam minyak tadi. Ia pun mengalami nasib yang sama dengan kedua kakaknya.
Tetapi sang ibu tetap kokoh dalam agamanya.
Fir’aun kembali menyuruh untuk melempar anak keempat ke dalam minyak. Para tentara segera mendatanginya. Ia masih kecil. Ia bergelayut di baju ibunya. Ketika para tentara menariknya, ia menjerit sambil memegangi kedua kaki ibunya. Air matanya membasahi kedua kaki sang ibu, sedangkan sang ibu berusaha menggendongnya bersama adiknya.
Ia berusaha melepas kepergiannya, mencium, dan mengecupnya sebelum berpisah. Para tentara itu pun memisahkan keduanya. Mereka raih kedua tangan mungil itu lalu menyeretnya, sementara ia terus dan terus menangis meminta tolong. Ia merajuk dengan kata-kata yang belum dapat dimengerti. Akan tetapi, mereka tidak juga mengasihinya.
Beberapa saat kemudian ia pun ditenggelamkan ke dalam minyak yang mendidih. Jasadnya lenyap dan suaranya hilang, lalu sang ibu mencium aroma daging. Tulang-belulangnya yang kecil nan putih naik ke permukaan minyak yang menyemburkannya. Sang ibu memandangi tulang-belulang itu. Sang anak telah meninggalkannya ke negeri lain. Ia hanya bisa menangis, tercacah oleh perpisahan dengan si buah hati.
Teringatlah, betapa ia dahulu mendekapnya ke dada dan menyusukan ke putingnya. Dan seringkali ia terjaga di malam hari ketika si buah hati terjaga dari tidurnya dan menangis karena tangisannya. Entah berapa malam yang telah ia habiskan di pangkuan sang ibu sambil memain-mainkan rambutnya. Entah berapa kali sang ibu harus ambilkan mainan-mainannya dan ia kenakan pakaiannya.
Namun, ia paksakan dirinya untuk tetap tegar dan terus bertahan.
Para tentara itu memandangi dan segera mendatanginya. Mereka renggut anak kelima yang masih menyusu itu dari kedua tangannya, padahal ia sedang mengulum puting ibunya…
Terlepas dari ibunya, si kecilpun menjerit dan menangislah wanita malang itu. Tatkala Allah Ta’ala melihat penghinaan terhadapnya, juga kesedihan dan kehilangan akan sang anak, Dia membuat si bayi yang masih dalam buaian itu berbicara.
“Wahai Ibu,” sapanya.
“Bersabarlah karena sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.”
Suara itu tak terdengar lagi olehnya. Si bungsu segera dibenamkan ke dalam panci bersama saudara-saudaranya yang lain.
Sang bayi ditenggelamkan ke dalam minyak yang mendidih ketika mulutnya masih menyisakan susu… di tangannya tersangkut sehelai rambut sang ibu… dan di bajunya tersisa air mata sang bunda.
Kelima anaknya pun pergilah sudah… Di sana, tulang-belulang mereka berkilapan dari dalam panci. Gumpalan-gumpalan daging mereka tersembur bersama minyak. Dan wanita malang itu hanya mampu melihat… oada tulang-belulang kecil itu…
Tulang-tulang siapa? Mereka adalah anak-anaknya yang sudah memenuhi rumahnya dengan tawa dan bahagia… mereka adalah permata hatinya… belahan jiwanya… yang ketika berpisah dengan mereka seakan hatinya tercabut dari rongga dadanya.
Sering mereka berlarian dan berhamburan ke hadapannya… Lalu sang ibu mendekap erat mereka di dadanya. Ia kenakan baju mereka dengan tangannya. Ia usap linangan air mata mereka dengan jemarinya… Tetapi sekarang… inilah mereka yang dirampas dari hadapannya, mereka dibunuh di depan kedua matanya. Mereka tinggalkan ia sendiri… mereka pergi darinya. Dan sebentar lagi ia akan bersama mereka.
Bisa saja ia menyelamatkan mereka dari siksa ini dengan kalimat kufur yang ia perdengarkan kepada Fir’aun. Namun ia sadar, apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal.
Kemudian, tatkala tidak ada lagi yang tersisi selain dirinya, para tentara pun segera mendatanginya bagai anjing-anjing buas. Mereka mendorongnya ke depan panci. Ketika mereka mengangkat tubuhnya dan hendak melemparnya ke dalam minyak, ia pandangi tulang-belulang anak-anaknya. Terbayang olehnya kebersamaan dengan mereka dalam kehidupan ini. Lalu ia palingkan pandangannya kepada Fir’aun.
“Aku minta kau kabulkan permintaanku,” ucapnya.
“Apa permintaanmu?” teriak Fir’aun.
“Kumpulkan tulangku dengan tulang anak-anakku dan kuburkan dalam satu kuburan,” pintanya.
Ia pejamkan matanya, lalu ia pun dilemparkan ke dalam panci. Jasadnya pun terpanggang dan tulang-belulangnya segera mengambang…
Subhanallaah, agung nian ketabahan sang wanita penyisir rambut ini… Betapa banyak pahalanya.
Pada malam Isra’, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat sebagian kenikmatan yang diraihnya. Maka beliau ceritakan hal itu kepada para Shahabat. Inilah penuturan beliau, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh al-Baihaqi:
“Ketika aku di-Isra’-kan, terhembuslah kepadaku aroma yang harum semerbak. Akupun bertanya, ‘Aroma apa ini? Maka dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah penyisir rambut puteri Fir’aun dan anak-anaknya’.” [Pembahasa tentang derajat hadits dan kisah ini dapat dibaca di artikel berikut ini: Masyithoh Tukang Sisir Putri Fir’aun oleh Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf.]
Allahu akbar, ia berlelah-lelah sebentar tetapi kemudian banyak bersenang-senang.

Diketik ulang oleh shalihah.com dari buku Kemuliaan Muslimah Penggenggam Bara Api, DR. Muhammad bin ‘Abdirrahman al-’Uraifi, Media Tarbiyah