MUHASABAH CINTA



Wahai... Pemilik nyawaku
Betapa lemah diriku ini
Berat ujian dariMu
Kupasrahkan semua padaMu

Tuhan... Baru ku sadar
Indah nikmat sehat itu
Tak pandai aku bersyukur
Kini kuharapkan cintaMu


Kata-kata cinta terucap indah
Mengalun berzikir di kidung doaku
Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku
Butir-butir cinta air mataku
Teringat semua yang Kau beri untukku
Ampuni khilaf dan salah selama ini
Ya ilahi....
Muhasabah cintaku...

Tuhan... Kuatkan aku
Lindungiku dari putus asa
Jika ku harus mati
Pertemukan aku denganMu


~~~~~~


Tuhan betapa aku malu atas semua yang Kau beri padahal diriku terlalu sering membuatMU kecewa
entah mungkin karna ku terlena sementara Engkau beri aku kesempatan berulang kali agar aku kembali
dalam fitrahku sebagai manusia untuk menghambakanMU
betapa tak ada apa-apanya aku dihadapanMU

aku ingin mencintaiMU
setulusnya,sebenar-benar aku cinta
dalam do'a dalam ucapan dalam setiap langkahku
aku ingin mendekatiMU selamanya
sehina apapun diriku
kuberharap untuk bertemu denganMU ya Rabbi

KODE BABI PADA MAKANAN BERKEMAS,



Tolong diForward ke saudara2 Muslim yang lain !!!!!!

Kode-kode di bawah ini, positif mengandung lemak babi: E100, E110, E120, E-140, E141, E153, E210, E213, E214, E216, E234,E252,E270, E280, E325, E326, E327, E337, E422, E430, E431, E432, E433, E434, E435, E436, E440, E470, E471, E472, E473, E474, E475, E476, E477, E478, E481, E482,E483, E491, E492, E493, E494, E495, E542, E570, E572, E631, E635, E904.

Salah seorang rekan saya bernama Shaikh Sahib, bekerja sebagai pegawai diBadan Pengawasan Obat & Makanan (POM) di Pegal, Perancis. Tugasnya,mencatat semua merk barang, makanan & obat-obatanProduk apapun yang akan disajikan suatu perusahaan ke pasaran, bahan-bahan produk tesebut harus terlebih dulu mendapat ijin dari BPOMPrancis dan Shaikh Sahib bekerja di bagian QC. Tak heran jika ia mengetahui berbagai macam bahan makanan yang dipasarkan. Banyak dari bahan-bahan tersebutdituliskan dengan istilah ilmiah, namun ada juga beberapa yang dituliskan dalam bentuk matematis seperti E-904, E-141.

Awalnya, saat Shaikh Sahib menemukan bentuk matematis, dia penasaran lalu menanyakan kode matematis tersebut kepada orang Prancis yang berwenang dalam bidang itu. Orang Prancis menjawab, Kerjakan saja tugasmu, dan jangan banyak tanya ...!
Jawaban itu, semakin menimbulkan kecurigaan Sahib, lalu ia pun mulai mencari tahu kode matematis dalam dokumen yang ada. Ternyata, apa yang dia temukan cukup mengagetkan kaum muslimin dunia. Hampir di seluruh negara bagian barat, termasuk Eropa pilihan utama untuk daging adalah daging babi. Peternakan babi sangat banyak terdapat di negara- negara tersebut. DiPerancis sendiri jumlah peternakan babi mencapai lebih dari 42.000 unit.



Jumlah kandungan lemak dalam tubuh babi sangat tinggi dibandingkandengan hwan lainnya. Namun, orang Eropa & Amerika berusaha menghindari lemak-lemak itu. Yang menjadi pertanyaan dikemanakan lemak-lemak babi tersebut ? Babi-babi dipotong di rumah jagal yang diawasi BPOM, tapi yang bikin pusing POM adalah membuang lemak yang sudah dipisahkan dari daging babi. Dahulu sekitar 60 tahun lalu, lemak-lemak babi itu dibakar. Kini merekapun berpikir untuk memanfaatkan lemak-lemak tersebut. Sebagai awal ujicobanya, mereka membuat sabun dengan bahan lemak babi, dan ternyata berhasil. Lemak-lemak itu diproses secara kimiawi, dikemas rapi dan dipasarkan. Negara di Eropa memberlakukan aturan yang mewajibkan bahan setiap produk makanan, obat-obatan harus dicantumkan pada kemasan. Karena itu, bahan dari lemak babi dicantumkan dengan nama Pig Fat (lemak babi) pada kemasan produknya. Agar mudah dipasarkan, penulisan lemak babi dalam kemasan diganti dengan lemak hewan. Ketika produsen ditanya pihak berwenang dari negara Islam, maka dijawab lemak tersebut adalah lemak sapi & domba. Meskipun begitu lemak-lemak itu haram bagi muslim, karena penyembelihannya tidak sesuai syariat Islam. Label baru itu dilarang keras masuk negara Islam, akibatnya produsen menghadapi masalah keuangan sangat serius, karena 75% penghasilan mereka diperoleh dengan menjual produk ke negara Islam, mengingat laba yang dicapai bisa mencapai miliaran dollar.

Akhirnya, mereka membuat kodifikasi bahasa yang hanya dimengerti BPOM,sementara orang lain tak ada yang tahu.
Kode diawali dengan E ? CODES,E-INGREDIENTS, ini terdapat dalam produk perusahaan mutinasional,antara lain : pasta gigi, pemen karet, cokelat, gula2, biskuit, makanan kaleng, buah2an kaleng, dan beberapa multivitamin serta masih banyak lagi jenis makanan & obat2an lainnya.

Karena itu, saya mohon kepada sesama muslim dimana pun, untukmemeriksa secara seksama bahan2 produk yang akan kita konsumsi dan mencocokannya dengan daftar kode E-CODES, berikut ini karena produk dengan kode-kodedi bawah ini, positif mengandung lemak babi: E100, E110, E120, E-140, E141, E153, E210, E213, E214, E216, E234,E252,E270, E280, E325, E326, E327, E337, E422, E430, E431, E432, E433, E434, E435, E436, E440, E470, E471, E472, E473, E474, E475, E476, E477, E478, E481, E482,E483, E491, E492, E493, E494, E495, E542, E570, E572, E631, E635, E904.

Adalah tanggungjawab kita bersama untuk mengikuti syari'at Islam danjuga memberitahukan informasi ini kepada sesama muslim lainnya.Semoga manfaat, M. Anjad Khan Medical Research Institute United States.


****************Prennss ...kalo mo hang out di Starbucks or Coffebean, pikir2 ulang deh... karena, ternyata semua minuman mengandung elmusifier yang berasal dari babi. Kalo membeli makanan kita juga gampang mengetahui halal or haram, caranya dg melihat ada tidaknya kode E ? trus tiga digit angka dibelakangnya, dan itu artinya bahan2 berasal dari lemak babi...

****************Dear all ...Jika memang emulsifier yang dipake starbuck adalah kode E471 (tidak adaembel2 lain, misal : lecithin de soja atau soy lecithin), maka saya yakni bahwa 'origin'nya adalah pork or varken (babi) Sebenarnya tak hanya E471 tapi juga E472, para keluarga muslim Groningen the Netherlands & ikatan kel muslim Eropa memperingatkan kami utk mengecek content / ingredient emulsifier ini pd setiap produk makanan yg akan dibeli. Kami pun sempat kaget, karena emulsifier juga digunakan pada rot itawar. Karena itu, kami sarankan kpd kel muslim utk pilih roti tawar dgistilah biological bread (non-chemical additive), tentu saja resikonya harga lebih mahal (1/2 blok roti tawar jenis ini hampir 3 X harga roti tawar dgemulsifier),yang pentingkan halal.


****************************FYI ....E471 biasa dikenal dg sebutan lecithin è originnya merupakan ekstrakdari tulang babi.E472 (saya tak ingat nama dagangnya) è originnya adalah ekstrak tulang babi. Kedua additive ini merupakan senyawa turunan dr asam lemak (fattyacid). Biasanya kedua additive ini sangat sering ditemukan pada produk2 berikut : Produk makanan mengandung cokelat è roti, ice cream, biskuit, dl. lProduk makanan yg perlu elmusifier è coklat bar, ice cream, or bulk,coffee cream, marshmallo, jelly, dsb.
Demikian sekilas info, semoga manfaatWallahu'alam bi shawab

Oleh Dr.M. Anjad Khan

Wanita Penghuni Surga Itu…

Dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata, Ibnu Abbas berkata padaku,
“Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?”
Aku menjawab, “Ya”
Ia berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.’ 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.’ 
Wanita itu menjawab, ‘Aku pilih bersabar.’ Lalu ia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’
Maka Nabi pun mendoakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa rindunya hati ini kepada surga-Nya yang begitu indah. Yang luasnya seluas langit dan bumi. Betapa besarnya harapan ini untuk menjadi salah satu penghuni surga-Nya. Dan subhanallah! Ada seorang wanita yang berhasil meraih kedudukan mulia tersebut. Bahkan ia dipersaksikan sebagai salah seorang penghuni surga di kala nafasnya masih dihembuskan. Sedangkan jantungnya masih berdetak. Kakinya pun masih menapak di permukaan bumi.
Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas kepada muridnya, Atha bin Abi Rabah, “Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?” Aku menjawab, “Ya”
Ibnu Abbas berkata, “Wanita hitam itulah….dst”
Wahai saudariku, tidakkah engkau iri dengan kedudukan mulia yang berhasil diraih wanita itu? Dan tidakkah engkau ingin tahu, apakah gerangan amal yang mengantarkannya menjadi seorang wanita penghuni surga?
Apakah karena ia adalah wanita yang cantik jelita dan berparas elok? Ataukah karena ia wanita yang berkulit putih bak batu pualam?
Tidak. Bahkan Ibnu Abbas menyebutnya sebagai wanita yang berkulit hitam.
Wanita hitam itu, yang mungkin tidak ada harganya dalam pandangan masyarakat. Akan tetapi ia memiliki kedudukan mulia menurut pandangan Allah dan Rasul-nya. Inilah bukti bahwa kecantikan fisik bukanlah tolak ukur kemuliaan seorang wanita. Kecuali kecantikan fisik yang digunakan dalam koridor yang syar’i. Yaitu yang hanya diperlihatkan kepada suaminya dan orang-orang yang halal baginya.

Kecantikan iman yang terpancar dari hatinyalah yang mengantarkan seorang wanita ke kedudukan yang mulia. Dengan ketaqwaannya, keimanannya, keindahan akhlaqnya, amalan-amalan shalihnya, seorang wanita yang buruk rupa di mata manusia pun akan menjelma menjadi secantik bidadari surga.
Bagaimanakah dengan wanita zaman sekarang yang sibuk memakai kosmetik ini-itu demi mendapatkan kulit yang putih tetapi enggan memutihkan hatinya? Mereka begitu khawatir akan segala hal yang bisa merusak kecantikkannya, tetapi tak khawatir bila iman dan hatinya yang bersih ternoda oleh noda-noda hitam kemaksiatan – semoga Allah Memberi mereka petunjuk -.
Kecantikan fisik bukanlah segalanya. Betapa banyak kecantikan fisik yang justru mengantarkan pemiliknya pada kemudahan dalam bermaksiat. Maka saudariku, seperti apapun rupamu, seperti apapun fisikmu, janganlah engkau merasa rendah diri. Syukurilah sebagai nikmat Allah yang sangat berharga. Cantikkanlah imanmu. Cantikkanlah hati dan akhlakmu.
Wahai saudariku, wanita hitam itu menderita penyakit ayan sehingga ia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta beliau agar berdoa kepada Allah untuk kesembuhannya. Seorang muslim boleh berusaha demi kesembuhan dari penyakit yang dideritanya. Asalkan cara yang dilakukannya tidak melanggar syariat. 
Saudariku, penyakit ayan bukanlah penyakit yang ringan. Terlebih penyakit itu diderita oleh seorang wanita. Betapa besar rasa malu yang sering ditanggung para penderita penyakit ayan karena banyak anggota masyarakat yang masih menganggap penyakit ini sebagai penyakit yang menjijikkan.
Tapi, lihatlah perkataannya. Apakah engkau lihat satu kata saja yang menunjukkan bahwa ia benci terhadap takdir yang menimpanya? Apakah ia mengeluhkan betapa menderitanya ia? Betapa malunya ia karena menderita penyakit ayan? Tidak, bukan itu yang ia keluhkan. Justru ia mengeluhkan auratnya yang tersingkap saat penyakitnya kambuh.
Subhanallah. Ia adalah seorang wanita yang sangat khawatir bila auratnya tersingkap. Ia tahu betul akan kewajiban seorang wanita menutup auratnya dan ia berusaha melaksanakannya meski dalam keadaan sakit. Inilah salah satu ciri wanita shalihah, calon penghuni surga. Yaitu mempunyai sifat malu dan senantiasa berusaha menjaga kehormatannya dengan menutup auratnya. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang yang di saat sehat pun dengan rela hati membuka auratnya???
Saudariku, dalam hadits di atas terdapat pula dalil atas keutamaan sabar. Dan kesabaran merupakan salah satu sebab seseorang masuk ke dalam surga. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.” Wanita itu menjawab, “Aku pilih bersabar.”
Wanita itu lebih memilih bersabar walaupun harus menderita penyakit ayan agar bisa menjadi penghuni surga. Salah satu ciri wanita shalihah yang ditunjukkan oleh wanita itu lagi, bersabar menghadapi cobaan dengan kesabaran yang baik.
Saudariku, terkadang seorang hamba tidak mampu mencapai kedudukan kedudukan mulia di sisi Allah dengan seluruh amalan perbuatannya. Maka, Allah akan terus memberikan cobaan kepada hamba tersebut dengan suatu hal yang tidak disukainya. Kemudian Allah Memberi kesabaran kepadanya untuk menghadapi cobaan tersebut. Sehingga, dengan kesabarannya dalam menghadapi cobaan, sang hamba mencapai kedudukan mulia yang sebelumnya ia tidak dapat mencapainya dengan amalannya.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika datang suatu kedudukan mulia dari Allah untuk seorang hamba yang mana ia belum mencapainya dengan amalannya, maka Allah akan memberinya musibah pada tubuhnya atau hartanya atau anaknya, lalu Allah akan menyabarkannya hingga mencapai kedudukan mulia yang datang kepadanya.” (HR. Imam Ahmad. Dan hadits ini terdapat dalam silsilah Al-Haadits Ash-shahihah 2599)
Maka, saat cobaan menimpa, berusahalah untuk bersabar. Kita berharap, dengan kesabaran kita dalam menghadapi cobaan Allah akan Mengampuni dosa-dosa kita dan mengangkat kita ke kedudukan mulia di sisi-Nya.
Lalu wanita itu melanjutkan perkataannya, “Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.” Maka Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa kepada Allah agar auratnya tidak tersingkap. Wanita itu tetap menderita ayan akan tetapi auratnya tidak tersingkap.
Wahai saudariku, seorang wanita yang ingatannya sedang dalam keadaan tidak sadar, kemudian auratnya tak sengaja terbuka, maka tak ada dosa baginya. Karena hal ini di luar kemampuannya. Akan tetapi, lihatlah wanita tersebut. Bahkan di saat sakitnya, ia ingin auratnya tetap tertutup. Di saat ia sedang tak sadar disebabkan penyakitnya, ia ingin kehormatannya sebagai muslimah tetap terjaga. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang yang secara sadar justru membuka auratnya dan sama sekali tak merasa malu bila ada lelaki yang melihatnya? Maka, masihkah tersisa kehormatannya sebagai seorang muslimah?
Saudariku, semoga kita bisa belajar dan mengambil manfaat dari wanita penghuni surga tersebut. Wallahu Ta’ala a’lam.

Allah Telah Menjadikan Kunci Bagi Segala Sesuatu

Al-Imam Ibnul Qoyyimrahimahullah berkata:
“Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi segala sesuatu kunci untuk membukanya, Allah menjadikan kunci pembuka shalatadalah bersuci sebagaiman sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Kunci shalat adalah bersuci’, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kunci pembuka hajiadalah ihram, kunci kebajikan adalah kejujuran, kunci surga adalah tauhid, kunci ilmu adalah bagusnya bertanya dan mendengarkan, kunci kemenanganadalah kesabaran, kunci ditambahnya nikmat adalah syukur, kuncikewalian adalah mahabbah dan dzikir, kunci keberuntungan adalah takwa, kunci taufik adalah harap dan cemas kepada Allah ‘Azza wa Jalla, kuncidikabulkan adalah doa, kunci keinginan terhadap akhirat adalah zuhud di dunia, kunci keimanan adalah tafakkur pada hal yang diperintahkan Allah, keselamatan bagi-Nya, serta keikhlasan terhadap-Nya di dalam kecintaan, kebencian, melakukan, dan meninggalkan, kunci hidupnya  hati adalah tadabbur al-Qur’an, beribadah di waktu sahur, dan meninggalkan dosa-dosa, kunci didapatkannya rahmat adalah ihsan di dalam peribadatan terhadap Khaliq dan berupaya memberi manfaat kepada para hamba-Nya, kunci rezekiadalah usaha bersama istighfar dan takwa, kunci kemuliaan adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, kunci persiapan untuk akhirat adalah pendeknya angan-angan, kunci semua kebaikan adalah keinginan terhadap Allah dan kampung akhirat,  kunci semua kejelekan adalah cinta dunia dan panjangnya angan-angan.


“Ini adalah bab yang agung dari bab-bab ilmu yang paling bermanfaat, yaitu mengetahui pintu-pintu kebaikan dan kejelekan, tidaklah diberi taufik untuk mengetahuinya dan memperhatikannya kecuali seorang yang memiliki bagian dan taufik yang agung, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kunci bagi setiap kebaikan dan kejelekan, kunci dan pintu untuk masuk kepadanya sebagaimana Allah jadikan kesyirikan, kesombongan, berpaling dari apa yang disampaikan Allah kepada Rasul-Nya, dan lalai dari dzikir terhadap-Nya dan melaksanakan hak-Nya sebagai kunci ke neraka, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan khamr sebagai kunci segala dosa. Dia jadikan nyanyian sebagai kunci perzinaan, Dia jadikan melepaskan pandangan pada gamba-gambar sebagai kunci kegelisahan dan kegandrungan, Dia jadikan kemalasan dan kesantaian sebagai kuncikerugian dan luputnya segala sesuatu, Dia jadikan kemaksiatan-kemaksiatan sebagai kunci kekufuran, Dia jadikan dusta sebagai kuncikenifakan (kemunafikan -ed), Dia jadikan kekikiran dan ketamakan sebagai kunci kebakhilan, memutus silaturahim, serta mengambil harta dengan cara yang tidak halal dan Dia jadikan berpaling dari apa yang dibawa Rasul sebagai kunci segala kebid’ahan dan kesesatan.
“Perkara-perkara ini tidaklah membenarkannya kecuali setiap orang yang memiliki ilmu yang shahih dan akal yang bisa mengetahui dengannya apa yang ada dalam dirinya dan apa yang berwujud dari kebaikan dan kejelekan. Maka sepantasnya seorang hamba memperhatikan dengan sebaik-baiknya ilmu terhadap kunci-kunci ini dan kunci-kunci yang dijadikan untuknya.” (Hadil Arwah 1/48-49)

***
Artikel www.muslimah.or.id

Wanita, kau ibarat bunga.. tapi mekarmu hanya sekali...

Wanita..
Indahmu laksana bias pelangi.. Merekah indah di langit sore.. Mewarnai angkasa bak lukisan semesta..
Wanita..
Tanpamu dunia tak berwarna..

Wanita..
Pesonamu semerbak bak bunga merekah d taman..
Memancarx aroma yg bgt menawan tiap insan yg menatap.. Bahkan tak ada kumbang yg enggan menyapa..
Wanita..
Tanpamu.. Bungapun enggan merekah..

Duhai wanita bmata jelita.. Kau bgt menyadari pesonamu, kau bgt tahu indahmu.. Maka, berhentilah menebar wangimu.. Brapa bnyk kumbang yg harus kau sakiti, dgn perangkap d antara kelopakmu?

Tahukah kau wanita? Bahwa kelemahanmu adalah kekuatanmu. Tiap kali kau terjatuh, maka perhatikan btapa bnyk tangan mrk yg terulur u membantumu.. Dan berhati2lah dgn kekuatanmu itu, krn hanya dg seraut wajah sedihmu mampu mbuat sakit mrk yg tertawan olehmu..
Oh wanita.. Tidakkah kau sadari? Bahwa senyummu ibarat jaring yg siap menjerat?
Ku beri tahukan pdmu, jaring yg jarang terpakai akan mempunyai kekuatan y lbh kuat, maka jgn umbar senyummu. Tp coba perhatix, skali kau tersenyum pd mrk, maka kau mampu mbuatx tak dpt bpaling drmu hingga kau menghilang dr tatapanx. Tp wanita, berapa bnyk hati yg harus terkoyak dg senyummu? Maka berhati2lah dg senyummu itu..

Wanita.. Mereka berpikir kau bgt lemah tak berdaya.. Tp mrk salah, mrk lah yg lemah dg smua pesonamu..
Mereka bfikir kau yg bergantung pd mrk. Tp mrk salah, sekali dia terjerat padamu, maka selamax dia tak akan mampu terlepas darimu..
Mereka selalu berfikir kau y menangis merindux, tp mrk salah, kita memang menangis, tp air mata kita adalh obat yg mampu menyembuhkan luka.. Dan pd akhirx ktika kita melupaxnya, maka mrk yg akan merana krn rindu pdmu..

Maka ku katax pdmu wanita, berhentilah melemah2x dirimu, krn kau sbnrx bgt kuat..
Tak usah terpuruk dlm luka yg tak seberapa, krn telah ku katax, kau memiliki obat yg bgt ampuh..
Jgn pernah merutuki diri dlm kesalahan yg kau perbuat, bangkitlah.. Berdirilah.. Tatap dirimu, jgn pudarx pesonamu hanya u sebuah nama yg tak penting..
Jgn buang2 air matamu u dia yg tak berarti.. Krn lihatlah sebentar lg dia y akan menangisimu..

Duhai wanita.. Ku katax engkau memang bunga, tp ingatlah.. Mekarmu hanya sekali.. Hanya sekali..

seindah cinta wanita perindu surga

Malam baru mulai memasuki sepertiga bagiannya yang terakhir, seorang lelaki termenung di dalam khalwatnya kepada Allah Ta’ala, sebagian hati dan pikirannya berkecamuk, ucapan tahmid tak henti-hentinya terlafadzkan oleh lisannya, tak terasa ada butiran air yang hangat menetes dari matanya, sungguh ini air mata bahagia.

Dipalingkannya wajahnya kesamping dan menatap wajah istrinya yang sedang terlelap tidur, sungguh wajah yang damai dan paras terindah yang pernah ia temui di dalam hidupnya, diperhatikannya dengan seksama dan pandangan kagum terhadap istrinya, ada suatu hal yang seakan menyesakkan dadanya, suatu ungkapan haru yang teramat dalam, dan berusaha ia untuk semampu mungkin menahan linangan air mata bahagia itu, namun lelaki itu tak mampu dan ia memutuskan untuk mengambil air wudhu demi menghadap ke hadapan Rabb-nya.

Di penghujung malam dalam dzikirnya terngiang kembali ucapan tulus dari istrinya yang tak pernah ia duga sebelumnya, “Abi,.... kalau abi ingin menikah lagi ana ridho demi mendapatkan ridho Allah Ta’ala!. Subhanallah, tidak pernah terlintas sama sekali dalam hati lelaki itu untuk ingin menikah lagi, juga tak pernah ia meminta istrinya untuk mau dimadu, selama ini pernikahannya yang telah berjalan delapan tahun dipenuhi keindahan dan barokah dari Allah Ta’ala.

Bagaimana tidak, ia telah menikahi wanita yang sholihah, cantik, terpelihara nasabnya dan telah memberikannya keturunan yang sholihah serta menghiasi pandangan matanya setiap hari di rumahnya. Tak pernah ia merasakan ada yang kurang dalam rumah tangganya walaupun mereka tidak memiliki harta yang melimpah, namun keluarganya adalah salah satu harta terbesar yang ia miliki, cintanya selalu bersemi setiap ia memandang istrinya, karena itulah dia tak ingin membagi keindahan itu, karena ia tidak yakin akan mampu berbuat adil. Di dalam hatinya tidak ada satu wanita pun di dunia ini yang akan mampu menandingi cintanya kepada istrinya...

Hingga datangnya saat itu... kemarin hatinya begitu tersentuh dan terharu demi mendengar ucapan tulus istrinya, “Selama ini engkau telah memberikan kasing sayang yang banyak kepada kami, setiap apa yang aku inginkan, maka engkau berusaha untuk memenuhinya dengan segala kemampuan yang engkau miliki. Betapa aku telah merasakan keindahan yang besar dengan menjadi istrimu, lalu kenapa aku harus berbuat egois untuk menguasai semuanya itu?”

“Allah Ta’ala Maha Pengasih, maka aku ridho karena Allah Ta’ala jika engkau ingin menikah lagi sesuai dengan apa yang telah Allah Ta’ala tetapkan dalam firman-Nya.”

Selama ini pernikahannya memang merupakan keindahan yang berkelanjutan, sehingga ia merasa bahwa rumahnya adalah surganya, ia hanya terdiam demi mendengar perkataan istrinya, lidahnya tercekat dan hatinya bergejolak, ia sangat terharu mengetahui sebuah keikhlasan yang jujur dan tulus tanpa ada paksaan siapapun, didasari kecintaan kepada Allah Ta’ala, keinginan untuk mendapatkan yang terbaik dalam rumah tangganya, dan juga didasari kesadaran yang penuh akan kodratnya sebagai wanita yang sholihah.

Terlintas kembali ucapan istrinya, “Walaupun kelak aku hanya menjadi satu-satunya istri dalam hidupmu, namun jika aku tidak menerima hukum Allah Ta’ala bahwa engkau memiliki hak untuk menikahi wanita selain aku, maka aku telah mengingkari Al-Qur’an dan durhaka kepada Allah Ta’ala, wahai suamiku, seorang laki-laki diciptakan memiliki kelebihan dibanding wanita, maka aku merelakan apa yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk kami kaum wanita, semoga Allah Ta’ala ridho kepadaku.”

“Maka keputusannya ada di tanganmu, bukannya aku tidak mencintaimu, sungguh engkau adalah lelaki terbaik yang pernah aku temui, engkau selalu memenuhi kebutuhanku semampumu, jika engkau marah, hal itu semata karena kesalahanku, tidaklah engkau pernah berbuat dholim kepada kami sitri dan anakmu, jika engkau telah berbuat adil kepada kami, maka kenapa aku harus menahan apa yang menjadi hak yang telah diberikan Allah Ta’ala kepadamu? Jika aku menahannya maka aku telah menolak keputusan Allah dan tidak adil kepadamu!”

“Wahai suamiku, wanita mana yang tidak memiliki kecemburuan dalam hatinya, wanita mana yang tidak cemburu kepada lelaki sebaik engkau, namun aku ridho kepada apa yang Allah Ta’ala ridho kepadanya, aku akan mengatur kecemburuanku agar berbuah menjadi kebaikan di hadapan Allah Ta’ala dan kemudian menjadi kebaikan di matamu, wahai suamiku, aku tidak memaksamu untuk menikah lagi, namun ketahuilah bahwa aku telah ridho jika engkau ingin menikah lagi.”

Lelaki itu kembali tercenung... tetesan air mata telah mulai mengering, hatinya berbunga-bunga demi mengetahui istrinya telah memahami semua nasihat yang ia berikan selama ini, buah dari ketekunan dalam menuntut ilmu dan meluangkan waktu untuk mendatangi ta’lim di mana diajarkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sama sekali tak pernah ia menyinggung hal itu sebelumnya, namun ucapan istrinya telah menyadarkan hatinya, bahwa ia harus semakin rajin untuk belajar ilmu agama sebaik-baiknya, melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan meneladani sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia ingin selalu didampingi oleh istrinya hingga ke akhirnya, hingga ke jannah kelak insya Allah.

Terucap pula oleh lisan istrinya ,”Wahai suamiku, sungguh aku sangat merindukan jannah Allah Ta’ala, dan aku ingin meraihnya bersamamu, aku pun ingin selalu bisa mendampingimu selama yang aku mampu, hingga ke jannah kelak insya Allah, aku selalu ingin berada dalam lembutnya labuhan kasih sayangmu. Wahai suamiku, engkau adalah pemimpinku, maka bimbinglah diri ini untuk selalu berada di atas jalan yang benar yang diridhoi Allah Ta’ala dan sesuai sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terpelesetnya dirimu adalah bencana bagiku, maka aku selalu berdo’a kepada Allah Ta’ala agar memberikan kita jalan yang lurus!”

Lisan lelaki itu tercekat, ia berusaha untuk menahan keharuan air matanya dan agar selalu tampak tegar di hadapan istri tercintanya itu, sungguh Allah Ta’ala telah memberikan karunia yang demikian besar dengan menjadikan ia suami dari seorang wanita yang bertaqwa, kembali ia memandang wajah anak-anaknya, hatinya berguman, “Wahai anakku! Sungguh kalian beruntung tumbuh dalam asuhan seorang ibu yang sholihah!”

Malam itu menjelang waktu subuh! Lelaki itu bangkit untuk menunaikan kewajiban sholat subuh, di dalam hatinya ada tekad untuk menjadi suami dan kepala rumah tangga yang terbaik bagi istri dan anak-anaknya, semoga Allah Ta’ala memberikan kemampuan kepadanya, sungguh mengarungi kehidupan dunia yang penuh cobaan ini tidaklah mudah, sebelum berangkat menuju masjid dibelainya kepala istrinya, dalam hati ia berkata,”Wahai istriku, engkau telah memiliki memahami agama ini semakin baik, aku tidak akan mau kalah darimu, aku akan semakin rajin untuk menuntut ilmu agama lebih baik lagi. Engkau telah ridho memberikan aku kesempatan untuk menikah lagi, namun ketahuilah, bahwa aku merasa belum mampu untuk menduakan cintamu, entah kelak! Namun kini satu hal yang aku tahu pasti, bahwa aku telah begitu beruntung memilikimu sebagai istriku. Maafkan aku istriku, aku belum mampu mewujudkan keinginanmu!”

Adzan subuh telah memanggil, saatnya bagi kaum muslimin yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir untuk menunaikan sholat subuh dengan berjamaah, wahai para suami, sibakkanlah selimut tebalmu dan bangunlah dari buaian mimpi menuju perintah Rabb-mu, wahai para istri, sertai dan jagalah suami kalian agar senantiasa selalu berada dalam keta’atan kepada Allah Ta’ala. Aku berdo’a agar Allah Ta’ala mempertemukan aku, istriku, anak-anakku beserta keluargaku bersama kalian para kaum muslimin kelak di jannah-Nya, Amiin.

Oleh Andi Abu Najwa

seindah cinta wanita perindu surga

Malam baru mulai memasuki sepertiga bagiannya yang terakhir, seorang lelaki termenung di dalam khalwatnya kepada Allah Ta’ala, sebagian hati dan pikirannya berkecamuk, ucapan tahmid tak henti-hentinya terlafadzkan oleh lisannya, tak terasa ada butiran air yang hangat menetes dari matanya, sungguh ini air mata bahagia.

Dipalingkannya wajahnya kesamping dan menatap wajah istrinya yang sedang terlelap tidur, sungguh wajah yang damai dan paras terindah yang pernah ia temui di dalam hidupnya, diperhatikannya dengan seksama dan pandangan kagum terhadap istrinya, ada suatu hal yang seakan menyesakkan dadanya, suatu ungkapan haru yang teramat dalam, dan berusaha ia untuk semampu mungkin menahan linangan air mata bahagia itu, namun lelaki itu tak mampu dan ia memutuskan untuk mengambil air wudhu demi menghadap ke hadapan Rabb-nya.

Di penghujung malam dalam dzikirnya terngiang kembali ucapan tulus dari istrinya yang tak pernah ia duga sebelumnya, “Abi,.... kalau abi ingin menikah lagi ana ridho demi mendapatkan ridho Allah Ta’ala!. Subhanallah, tidak pernah terlintas sama sekali dalam hati lelaki itu untuk ingin menikah lagi, juga tak pernah ia meminta istrinya untuk mau dimadu, selama ini pernikahannya yang telah berjalan delapan tahun dipenuhi keindahan dan barokah dari Allah Ta’ala.

Bagaimana tidak, ia telah menikahi wanita yang sholihah, cantik, terpelihara nasabnya dan telah memberikannya keturunan yang sholihah serta menghiasi pandangan matanya setiap hari di rumahnya. Tak pernah ia merasakan ada yang kurang dalam rumah tangganya walaupun mereka tidak memiliki harta yang melimpah, namun keluarganya adalah salah satu harta terbesar yang ia miliki, cintanya selalu bersemi setiap ia memandang istrinya, karena itulah dia tak ingin membagi keindahan itu, karena ia tidak yakin akan mampu berbuat adil. Di dalam hatinya tidak ada satu wanita pun di dunia ini yang akan mampu menandingi cintanya kepada istrinya...

Hingga datangnya saat itu... kemarin hatinya begitu tersentuh dan terharu demi mendengar ucapan tulus istrinya, “Selama ini engkau telah memberikan kasing sayang yang banyak kepada kami, setiap apa yang aku inginkan, maka engkau berusaha untuk memenuhinya dengan segala kemampuan yang engkau miliki. Betapa aku telah merasakan keindahan yang besar dengan menjadi istrimu, lalu kenapa aku harus berbuat egois untuk menguasai semuanya itu?”

“Allah Ta’ala Maha Pengasih, maka aku ridho karena Allah Ta’ala jika engkau ingin menikah lagi sesuai dengan apa yang telah Allah Ta’ala tetapkan dalam firman-Nya.”

Selama ini pernikahannya memang merupakan keindahan yang berkelanjutan, sehingga ia merasa bahwa rumahnya adalah surganya, ia hanya terdiam demi mendengar perkataan istrinya, lidahnya tercekat dan hatinya bergejolak, ia sangat terharu mengetahui sebuah keikhlasan yang jujur dan tulus tanpa ada paksaan siapapun, didasari kecintaan kepada Allah Ta’ala, keinginan untuk mendapatkan yang terbaik dalam rumah tangganya, dan juga didasari kesadaran yang penuh akan kodratnya sebagai wanita yang sholihah.

Terlintas kembali ucapan istrinya, “Walaupun kelak aku hanya menjadi satu-satunya istri dalam hidupmu, namun jika aku tidak menerima hukum Allah Ta’ala bahwa engkau memiliki hak untuk menikahi wanita selain aku, maka aku telah mengingkari Al-Qur’an dan durhaka kepada Allah Ta’ala, wahai suamiku, seorang laki-laki diciptakan memiliki kelebihan dibanding wanita, maka aku merelakan apa yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk kami kaum wanita, semoga Allah Ta’ala ridho kepadaku.”

“Maka keputusannya ada di tanganmu, bukannya aku tidak mencintaimu, sungguh engkau adalah lelaki terbaik yang pernah aku temui, engkau selalu memenuhi kebutuhanku semampumu, jika engkau marah, hal itu semata karena kesalahanku, tidaklah engkau pernah berbuat dholim kepada kami sitri dan anakmu, jika engkau telah berbuat adil kepada kami, maka kenapa aku harus menahan apa yang menjadi hak yang telah diberikan Allah Ta’ala kepadamu? Jika aku menahannya maka aku telah menolak keputusan Allah dan tidak adil kepadamu!”

“Wahai suamiku, wanita mana yang tidak memiliki kecemburuan dalam hatinya, wanita mana yang tidak cemburu kepada lelaki sebaik engkau, namun aku ridho kepada apa yang Allah Ta’ala ridho kepadanya, aku akan mengatur kecemburuanku agar berbuah menjadi kebaikan di hadapan Allah Ta’ala dan kemudian menjadi kebaikan di matamu, wahai suamiku, aku tidak memaksamu untuk menikah lagi, namun ketahuilah bahwa aku telah ridho jika engkau ingin menikah lagi.”

Lelaki itu kembali tercenung... tetesan air mata telah mulai mengering, hatinya berbunga-bunga demi mengetahui istrinya telah memahami semua nasihat yang ia berikan selama ini, buah dari ketekunan dalam menuntut ilmu dan meluangkan waktu untuk mendatangi ta’lim di mana diajarkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sama sekali tak pernah ia menyinggung hal itu sebelumnya, namun ucapan istrinya telah menyadarkan hatinya, bahwa ia harus semakin rajin untuk belajar ilmu agama sebaik-baiknya, melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan meneladani sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia ingin selalu didampingi oleh istrinya hingga ke akhirnya, hingga ke jannah kelak insya Allah.

Terucap pula oleh lisan istrinya ,”Wahai suamiku, sungguh aku sangat merindukan jannah Allah Ta’ala, dan aku ingin meraihnya bersamamu, aku pun ingin selalu bisa mendampingimu selama yang aku mampu, hingga ke jannah kelak insya Allah, aku selalu ingin berada dalam lembutnya labuhan kasih sayangmu. Wahai suamiku, engkau adalah pemimpinku, maka bimbinglah diri ini untuk selalu berada di atas jalan yang benar yang diridhoi Allah Ta’ala dan sesuai sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terpelesetnya dirimu adalah bencana bagiku, maka aku selalu berdo’a kepada Allah Ta’ala agar memberikan kita jalan yang lurus!”

Lisan lelaki itu tercekat, ia berusaha untuk menahan keharuan air matanya dan agar selalu tampak tegar di hadapan istri tercintanya itu, sungguh Allah Ta’ala telah memberikan karunia yang demikian besar dengan menjadikan ia suami dari seorang wanita yang bertaqwa, kembali ia memandang wajah anak-anaknya, hatinya berguman, “Wahai anakku! Sungguh kalian beruntung tumbuh dalam asuhan seorang ibu yang sholihah!”

Malam itu menjelang waktu subuh! Lelaki itu bangkit untuk menunaikan kewajiban sholat subuh, di dalam hatinya ada tekad untuk menjadi suami dan kepala rumah tangga yang terbaik bagi istri dan anak-anaknya, semoga Allah Ta’ala memberikan kemampuan kepadanya, sungguh mengarungi kehidupan dunia yang penuh cobaan ini tidaklah mudah, sebelum berangkat menuju masjid dibelainya kepala istrinya, dalam hati ia berkata,”Wahai istriku, engkau telah memiliki memahami agama ini semakin baik, aku tidak akan mau kalah darimu, aku akan semakin rajin untuk menuntut ilmu agama lebih baik lagi. Engkau telah ridho memberikan aku kesempatan untuk menikah lagi, namun ketahuilah, bahwa aku merasa belum mampu untuk menduakan cintamu, entah kelak! Namun kini satu hal yang aku tahu pasti, bahwa aku telah begitu beruntung memilikimu sebagai istriku. Maafkan aku istriku, aku belum mampu mewujudkan keinginanmu!”

Adzan subuh telah memanggil, saatnya bagi kaum muslimin yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir untuk menunaikan sholat subuh dengan berjamaah, wahai para suami, sibakkanlah selimut tebalmu dan bangunlah dari buaian mimpi menuju perintah Rabb-mu, wahai para istri, sertai dan jagalah suami kalian agar senantiasa selalu berada dalam keta’atan kepada Allah Ta’ala. Aku berdo’a agar Allah Ta’ala mempertemukan aku, istriku, anak-anakku beserta keluargaku bersama kalian para kaum muslimin kelak di jannah-Nya, Amiin.

Oleh Andi Abu Najwa